sebuah judul yang sangat ” sarkastik” tentunya. terlalu sadis,
terlalu radikal. jelas bertentangan dengan kebanyakan prinsip para
suporter. Tontonan itu sangat menghibur jadi kenapa mesti ditinggalkan.
Kita selama ini semata terobsesi untuk merengkuh hasil
tetapi melupakan proses. Bahkan demi merengkuh hasil itu kita tega
berbuat menghalakan segala cara, bahkan sampai melakukan tindakan
kriminal.
Contoh aktual : aksi mengutak-atik bunyi peraturan FIFA oleh para
petinggi PSSI kita, apakah juga perbuatan yang menghalalkan cara,
sekaligus sebagai tindak kriminal ? Mungkin ikhtiar semacam ini bisa
lolos. Tetapi hasil akhirnya akan dicatat oleh semesta, dan hanya
kegagalan yang menyapa pada ujung-ujungnya.
Di tengah carut-marut tindak rekaculika itu, lalu di mana suara para
suporter sepakbola Indonesia ? Kalau upaya meluruskan apa yang terjadi
dalam tubuh PSSI saat ini dilakukan dengan cara seperti melakukan demo,
justru cara seperti ini yang “ditunggu” oleh mereka. Apalagi kalau ada
tindak kekerasan. Kita para suporter akan terjebak dalam alunan gendang
aksi mereka.
Rekan-rekan suporter, beraksilah dengan metode di luar kotak.
Tirulah cara Mahatma Gandhi (1869-1948) dalam menanggapi tindak
kekejaman kolonial Inggris saat itu ketika India menjelang
kemerdekaannya. Gandhi menyerukan pendukungnya untuk melakukan aksi
anti kekerasan. Salah satu aksinya yang terkenal adalah satyagraha,
aksi non-koperasi dengan penguasa sipil. Kalau seluruh suporter
Indonesia kompak, melupakan dulu konflik semu antarkota, meminggirkan
primodialisme, demi masa depan sepakbola Indonesia di tataran terhormat
sepakbola dunia, kita mungkin mampu merubah keadaan.
Ketika memperingati sewindu Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2008, bersama rekan-rekan suporter Solo, saya merancang melakukan aksi demo berdiam diri di Gladag,
Solo. Pesannya adalah, untuk memprotes pengelolaan sepakbola Indonesia
saat ini, menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan : tidak menonton pertandingan sepakbola Indonesia.